 | Kau dan Aku, Deskripsi Sebatas Aku Mampu | Nov 28, 2007 |
Aku adalah anak panah Yang melalui arah yang ditentukkan busurnya Yang berusaha sekuat tenaga melawan gravitasi Mencapai tujuannya yang tertinggi Aku mujahidahNya Yang mengharap ridhaNya Setidaknya untuk satu pahala Dari sebuah perkara Atas usaha sekuat tenaga Di tengah terpa dan dera sosialita Tapi aku juga putra terate Yang tumbuh dari lumpur Yang berusaha tetap anggun Yang walau tiap helai kelopakku terus luruh, Masih ada sariku yang kan terus kutebarkan ... sebatas aku mampu Kini aku meniti jalan, mencoba tuk kembali berjuang Walaupun sangat sulit tapi ku yakin aku pasti bisa Kuyakin kumampu Walau ini harus berjalan tanpa restu Kutahu ini kan jadi perjalanan yang panjang, sulit, dan berat Tapi apa salah jika kuterus mencoba? Setidaknya izinkan diri ini tuk terus berjuang dan berusaha.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Hari-hari yang kulalui dengan sebuah lagu sederhana Iwan Fals yang kaudendangkan khusus untukku walau tanpa request. Gie, terima kasih untuk sebuah lagu manis yang tak kan hilang kesan dan maksudnya. Mungkin dulu lagu itu kau dendangkan untuk mendeskripsikan diri ini. Tapi Gie, sungguh lagu itu sangat menginspirasiku kini.
Aku berkelahi dengan waktu, agar tercapai semua tujuanku, agar tak ada sesalku di ujung waktu.
 21 Februari 2008 Aku bertemu dengan seorang kakak perempuanku...seorang SH, dulu juga seorang atlet seni. Kami berbincang sambil mengobati rindu hingga akhirnya kami membahas tentang peluang juara bagi atlet yang turun di kategori seni tunggal putri. Beliau menunjuk juara I pada seorang atlet seniorku. Kelopak mataku turun setengah, dan tanpa memandang wajahnya aku berkata, “Ga bisa, harus aku yang akan juara I.” Ia terdiam, memandangku (mungkin) tak percaya atau (mungkin) dalam lubuk hatinya ia berkata, “Percaya diri sekali anak ini.... .” Tapi beliau berkata sambil berusaha ikut optimis, “Yah, bagus! Semangat!” Hal tersebut sudah kurencanakan sejak berbulan-bulan yang lalu, dalam event ini-AKU HARUS JUARA!!!! Dan tidak ada juara selain juara I. Kata-kataku itu bukan bermaksud untuk bersikap arogan, tapi hanya caraku untuk memb eri dorongan pada diri ini untuk meyakini bahwa aku bisa melakukan apa saja. Aku sadar, bahwa kekalahanku dulu atau mungkin orang-orang pada umumnya adalah akibat dari kemampuan yang terbatasi. Kadang kita juga terlalu sering mencari peluang, padahal kita mampu menciptakannya.
Seharusnya aku tahu itu dari dulu! Dulu aku bisa maklum kalau aku kalah dari seniorku karena menurutku kemampuanku terbatas dan kecil peluangku untuk menjadi juara I. Tapi sekarang, aku tidak bisa menerimanya sebagai sebuah alasan untuk kalah! Kini aku sadar, kita terlalu sering membatasi kemampuan kita yang tak terbatas. Sehingga jik a terdengar oleh kita ada atlet yang lebih senior, juara berkali-kali, atau bahkan pernah melatih kita ... maka kita menjadi ciut, niat kita yang tadinya bisa mendorong kita menjadi juara seketika lenyap. Aku sempat terlarut dalam suasana itu ketika Mbak Kur memberi tahuku bahwa seorang senior tersebut turun. Tapi, aku segera bangkit. Aku tidak bisa terima kalau tekadku untuk menjadi juara harus lenyap hanya karena ia turun. Gelanggang itu tengahnya bulat, segala sesuatu mungkin terjadi dan selam a matah  ari masi h terbit dari sebelah timur, selama raga ini masih sanggup bernapas, maka aku akan tetap bertaha n untuk berjuang memutar roda takdirku sendiri. Seniorku bukan l agi p eng halang tapi sebuah tantangan. Aku juga ga’ mau mengecewakan orang-orang di sekitarku. Aku ga’ mau membuat kecewa Mas Edy Suhartono yang sempat kesakitan waktu memberi contoh circle, Mbak Kur yang sekuat tenaga melatih walau unfit dan juga punya masalah sendiri, team yang sud ah kehabisan atlet, dan tentu saja aku yakin ... bahwa aku takkan mengecewakan diriku sendiri. Sebelum main, aku berada di tengah sebuah lingkaran kecil, di antara rekan-rekan se-team yang mendoakanku. Seseorang menyampirkan jaket ’kebesaran’ UWKS (yang ukurannya memang besar) di punggungku. Jaket itu, doa mereka, membuatku merasa sangat diharapkan dan membuat perjuanganku terasa lebih berarti hingga sulit bagiku untuk menolak untuk memberikan yang terbaik. Walau kadang terasa ada yang hilang sesaat sebelum aku main. Saat-saat tersyahdu bagiku, sesaat setelah aku dilepas oleh team dan seorang tercinta sebelum aku masuk gelanggang. Seorang yang menuntun, membimbing, dan mengiringi tiap langkah kecilku menggapai impian. Seseorang yang mampu membuatku lebih fokus, sadar pada tiap gerakanku dan tujuanku. Mas,
Di Benteng Pendem sana engkau berada kini
Namun namamu kan selalu ada di dalam hati
Jasamu kan selalu terkenang dalam tiap kemenangan
Bayangmu kan slalu mengiringi dalam tiap langkah perjuanganSeharusnya aku memang harus membiasakan diri pada ketidak sempurnaan kondisi itu, kadang aku berpinta pada Tuhan tentang suatu waktu dimana aku bisa merasakan kembali kesyahduan itu. Kesyahduan yang terasa indah dan mendalam. Sementara itu, kulihat seorang teman seperjuangan yang tak berhenti menangisi kekalahannya. Sedihnya mengingatkanku pada perasaan yang sama, ketika seorang kawan yang dulu berjuang di Porprop I Jatim. Harapanku sama, aku ingin memeluk mereka, mendekap erat, dan berbisik, ”Jangan bersedih kawan, aku masih di sini. Untuk menemanimu menyembuhkan lukamu yang dalam.” Kawan, jabat erat tangankuLampiaskan semua kemarahanmu padaku Agar lega hatimu Agar tenang batinmu Kawan, andai ada cara untuk menghapus air matamu, katakan... Akan kulakukan agar hilang perih di hatimu Tak tega diri ini melihat air matamu atau tangan kokohmu yang bergetar Aku tahu betapa letihnya ragamu, karena aku merasakan tiap percikan peluhmu Aku tahu betapa sakitnya hatimu, karena aku meresapi aroma perjuanganmu Aku tahu seberapa keras hatimu merintih, karena tiap latihan yang kita lalui bersama di atas gelanggang adalah ikhtiar kitaYang tiap gerakannya adalah dzikir kita Walau berakhir pahit, tapi kuyakin ada kejayaan yang bersinar cerah menunggu di depan Kawan, andaikata ada kesempatan untuk berbicara denganmu Menguatkan hatimu Agar bisa kujabat tanganmu, kupeluk tubuhmu, dan berbisik lirih ’Kita pasti kembali, dengan kemampuan yang lebih, tuk meraih kejayaan itu kembali.’
 Khusus untuk rekan baruku ini, aku juga ingin berbisik, ”Kawan, tenanglah. Iringi usahaku dengan doamu. Usahaku untuk mengalahkan mereka, mengalahkan mereka untukmu. Jika engkau akan senang karenanya.” Hingga kemenangan itu kugapai, setidaknya aku menganggap bisa meringankan kesedihan seorang kawan. Walau sedikit kecewa memang, entah aku yang merasa lebih baik setelah dilatih oleh ahlinya, atau seniorku tersebut tadi yang baru mulai latihan lagi, atau gerakannya yang kurang begitu berkembang di mataku, atau ketiganya. Saat itu juga terasa seperti bukan lagi tantangan. Tapi yang pasti tidak ada alasan jika kita ingin menang, jika kita ingin menjadi juara. Dan aku hanya perlu fokus pada cara-cara untuk menang, untuk jadi juara. Aku juga baru turun, baru latihan dari cuti panjangku. Saat-saat aku mulai melangkah juga saat-saat terberat. Karena saat itu aku merasa walau berat badanku turun, tapi rasanya semakin berat mengangkat tiap massa otot yang melekat pada rangka ini. Tiap gerakan yang kulakukan saat itu terasa berat dan tak bertenaga. Aku merasa sudah tak selincah dulu. Rasanya ingin menangis, berteriak dan bertanya, ’kemana kemampuanku yang dulu pernah ada?’ Sehasta keraguan membuatku sulit tuk bangkit dan mulai melangkah. Tapi aku tahu bahwa aku tak perlu kembali ke masa itu melainkan harus menguatkan hati dan diri untuk lebih baik. Aku tak kan munafik, aku menang dan itu adalah hal yang memang kuharapkan dan kuperjuangkan. Aku datang memang untuk menang, bukan untuk meramaikan gelanggang, bukan untuk jadi peserta, bukan un  tuk lainnya. Dan karena kemenangan kecil itu, aku berterima kasih kepada Mas Edy, Mbak Kur, Mas Indra, Mbak Sih (yang sudah (secara tak langsung) memaksaku untuk berjuang sekuat tenaga), Mbak Ria, Mas Sugeng, manager team: Mbak Niken & Sandy the ’Black’, team UWKS dan semua orang yang tak bisa kusebutkan satu persatu yang secara langsung maupun tidak langsung membantuku. Khusus untuk Mbak Kur, ... jangan pernah lagi menolak sebuah penghormatan. Bagi saya, saya telah bersumpah pada semua pelatih saya seperti sumpah Hipocrates pada gurunya. Andaikan saya bisa melakukan hal yang lebih, maka akan saya lakukan. Tapi, untuk saat ini, hanya sebuah penghormatan sederhana tanda terima kasih yang bisa saya sampaikan. Terakhir, rasa syukurku pada kekasih hatiku, yang tak jera mengulurkan tanganNya ketika aku terjatuh, menunjukkan kemurahan hatiNya justru ketika aku menjauh. Sungguh, tak terkira cintaMu padaku dan izinkan cintaku bertambah hanya padaMu, dalam setiap perjuangan dan jihad di atas gelanggang. ***
Sementara itu di tempat lain terdengar olehku seorang pesilat tunggal putri yang lolos ke final tapi tidak (pernah) juara. Dia menelepon seseorang, dengan nada tidak terima ia mengatakan bahwa seharusnya orang yang ditelpon itu lebih keras ketika memberikan kode. Kebiasaan kita yang terlalu biasa. Kita tidak pernah berusaha untuk bersikap luar biasa dengan bersikap proaktif, kita selalu terbawa suasana dan mulai reaktif. Ketika kita kalah, kita akan mulai mencari-cari alasan dan menyalahkan lingkungan. Begitu juga aku dulu, sebuah kekalahan, sebuah luka lama yang masih membekas dalam.
Kekalahan itu seperti cambukan
cambuk api yang di antaranya
terdapat duri-duri tajam, ia mampu
meremukkan tulang, mengoyak
badan, meluluh lantakkan jiwa dan
harapan, sangat menyakitkan.
Saat itu aku mulai menganggap bahwa ada yang tidak benar pada jurinya, ada konspirasi, pelatihku telah berbohong padaku dengan mengatakan bahwa aku sudah bagus, teamku terlalu menuntutku, kode yang diberikan tidak terdengar jelas dan masih banyak lagi. Itulah kebodohan-kebodohanku dulu, menyalahkan sesuatu yang tak mampu kukontrol. Seharusnya aku tahu itu, sejak dulu! Di tengah ambisi dan segala yang kuraih dan kuperjuangkan ini, ada selaksa harapan yang belum tersampaikan. Entah kapan harapan itu kan terwujud, walau bukan sekarang tapi kuharap segera. Semua mengira bahwa kepulanganku ke sebuah kota kecil di ujung selatan Jawa Timur itu ada sebuah misi untuk mengabarkan hasil perjuanganku pada kedua orang tuaku. Sepasang kekasih abadi, yang belum kudapatkan restunya hingga sekarang tentang sebuah izin untuk kembali berjuang di gelanggang. Walaupun begitu, kejuaraan ini ... adalah sebuah pelajaran bagiku, tentang caraku memandang diriku sendiri, tentang caraku memandang dan menghadapi pengaruh-pengaruh yang tak mampu kukontrol, tentang fokus, tentang hal-hal baru, hal-hal positif yang seharusnya kutanamkan sejak dulu. Aku juga sadar, bahwa di depan sana...tantangan-tantangan dan impian-impian besar menantiku untuk meraihnya dan mengubahnya menjadi kenyataan. Jum’at, 13 Januari 2005
Hari ini aku bereskan semua urusan, mulai dari menitipkan dispensasi, ujian PKn sampai ngetik data 600an Calon Warga 2006. Kuselesaikan semua urusan untuk sebuah urusan yang lain, untuk memenuhi sebuah janji yang harus kutepati. Sebuah janji yang kutandatangani kontraknya kemarin, saat Mas Yanto ‘Kirun’ mengajakku untuk bergabung dengan team pencak silat-nya mewakili Universitas Gajayana. Tanpa pikir panjang langsung ku-iya-kan saja ajakan itu. Jum’at pagi tiba dan kukatakan niatku pada orang tuaku bahwa hari ini juga aku akan ke Malang, sendirian ditemani Mas Ardhi ‘Kodok’, main seni untuk Uniga. Orang tuaku naik pitam dan tentu saja Papa tidak mengizinkan anak gadis satu-satunya pergi jauh seorang diri dengan seorang pria tak dikenal. Tapi aku tetap bertahan, aku tidak merubah keputusanku…hingga aku berangkat sekolah dan sempat ada rasa gentar di hati…
’Aq…harus berhadapan dengan Papa? Orang yang paling keras di keluargaku…dan belum ada yang pernah bisa merubah keputusan beliau kecuali Allah dan Mamaku, itupun harus dengan segenap upaya Mama. Yang bahkan orang tua Papa pun tidak bisa merubah keputusan yang diambil Papa.’
Sepulang sekolah Mama bertanya, “Kamu jadi pergi ke Malang?” Kutarik napas dalam-dalam, berbisik basmalah dan dengan mantap kujawab singkat, ”Jadi.”
Hari Jum’at adalah hari yang pendek dan Papa pulang lebih cepat. Saat Papa pulang adalah saat-saat yang menentukan dan menegangkan bagiku. Mungkin Mama sudah nelpon Papa bahwa aku jadi berangkat ke Malang dan dengan gaya bicara dan nada tegasnya yang khas dan mampu menggetarkan hati tiap orang yang mendengarnya, ”Papa izinkan kamu ke Malang..., tapi kamu harus nginep di rumah Bude.”
Subhanallah, ingin rasanya kutersenyum, tapi kutahan dan berusaha sekuat tenaga sok jaim, ”Aku menang”, bisik hatiku...aku menang dalam pertarungan hati ini. Dengan memasang wajah sok serius aku berkata, ”Ya, Pa. Makasih ya Pa.”
Itu adalah salah satu titik tolak dalam hidupku, untuk menjadi lebih baik. Sebuah rintangan yang lebih berat dari latihan-latihan yang kulalui.
Restu orang tua, sesuatu yang belum aku dapatkan dari mereka sampai sekarang. Belum pernah mereka melepasku dengan segenap hati, belum pernah juga mereka menyambut kemenanganku dengan suka cita. Tanpa ’restu’ tersebut membuat tiap langkah perjuanganku terasa lebih berat. Aku bisa mengangkat burble seberat 5 kg, aku bisa lari 1 jam, aku bisa juara..., tapi semua itu terasa hambar tanpa restu mereka. Sebuah hal sederhana yang masih kuperjuangkan hingga sekarang....mendapat restu orang tuaku yang kucintai dengan segenap jiwa ragaku.
I WILL SHOW THEM THAT I AM RIGHT
Tapi kejadian itu juga memberiku pelajaran lain, andaikata aku tak berkeras hati...aku mungkin nggak akan pernah bermain di antar ranting Malang yang membawaku untuk bertemu dengan Mbak Kur and the gang termasuk pelatihnya pelatihku itu, Mas Edy Suhartono, yang memberi tahuku hakikat bermain seni, hakikat perjuangan di dunia ini, hakikat hidup untuk menjadi pemenang
JUST BECAUSE WE BORN TO WIN
Andaikata aku tak memantapkan hati dan menyerah, Papa mungkin tak akan pernah (sekedar) mengizinku untuk pergi jauh ke tempat dimana gelanggang hijau itu digelar, ke tempat yang akan menempa mentalku setahap demi setahap, mental yang kuyakin tak semua orang memilikinya. Kejadian ini yang juga membuatku mulai meraih kesempatan-kesempatan yang lebih besar bagiku, kesempatan-kesempatan besar...yang tak akan pernah datang untuk kedua kalinya.... .
Sampai sekarang aku pun masih meragukan halal/haram ber’main’ pencak silat. Kita tidak bermaksud untuk membunuh atau menyakiti seseorang, tapi rasa sakit yang kita derita atau bahkan kita buat adalah konsekuensi permainan ini sebagai atlet laga/tanding. Kita juga tidak bermaksud untuk membahagiakan pasangan kita hingga kita harus berhias dan memakai kain terbaik, atau mempersiapkan diri dalam keadaan yang paling prima sebelum tampil sebagai atlet seni. Kuakui kita tidak sedang berperang, maka atlet-atlet kitalah yang maju berperang di medan yang berbeda, menjadi pahlawan bangsa! Saudara-saudaraku khususnya, gelanggang adalah medan perang mereka. Gelanggang serta ajang saling pukul dan tendang inilah pemersatu kita, walau tak jarang terjadi hal – hal yang tidak diharapkan itupun karena hal-hal yang tidak menjunjung spotifitas. Hingga tiba saatnya ketika kuputuskan untuk mengambil cuti panjang Mencoba untuk sejenak merenung, berpikir Ingin rasanya ku kembali ke dunia itu Ingin rasanya kutapaki kembali tiap langkah perjuangan yang dulu harus kujalani Sebuah perjuangan yang panjang dan berat Tuk buktikan diri Walaupun samar bagi orang lain tentang apa yang harus kubuktikan dari diri Karena bagi mereka, sudah tidak ada artinya apa yang kuperjuangkan dulu Karena bagi mereka, aku hanya akan mengulangi kebodohan yang sama Bodohkah aku? Apakah yang kulakukkan dulu tidak ada artinya? Apakah aku akan mengulangi kebodohan yang sama? Benarkah mereka? Salahkah aku? Apakah jalan itu bukan lagi untukku? Atau memang seharusnya itu jalan yang tidak pernah pantas untukku? Lalu kenapa terjadi? Ke’warga’anku terlahir dari sebuah nadzar Ke’atlet’anku tumbuh dari selaksa kecintaan Cukupkah itu menjadi alasan? Atau kita memang tidak perlu alasan? Karena keterlenaanku dengan ego dan cintaku pada dunia dan permainan itu, dalam waktu sesingkat itu, telah membuat kecewa orang-orang yang sangat kucintai Karena kuakui saat itu aku mendedikasikan diri Semua orang tahu, tak ada yang bisa kudapatkan dari dedikasi Semua orang sudah menganggapku hancur Namun sekarang aku sudah tidak menghirauhkan hal itu, aku masih memperhatikan dari jauh dan aku berencana untuk kembali ke medan itu Karena aku rinduku berada di situ, berjuang untuk beberapa hal yang tak tentu Karena di gelanggang itulah aku pernah menampilkan yang terbaik untuk Illahku Tak pernah terlintas bahwa apa yang kutampilkan itu adalah untuk juri, penonton, team, sekolah, daerah, orang tua, pelatih, diriku, atau siapapun itu Bukan, bukan untuk mereka Bukan juga untuk suatu penghargaan, medali, piagam, uang, pengalaman dan lain sebagainya Bukan juga untuk hal-hal duniawi tersebut, karena aku tak butuh semua itu Tapi setidaknya satu hal yang aku ingin mereka tahu Itulah caraku bertindak di atas sajadah yang berbeda Untuk Illahku, Illah mereka, Illah kita ... .
Sebuah renungan setelah kusaksikan pejuang-pejuang kecil yang mulai merintis jalan menuju kemenangan di Porprov I Jatim 2007
Dalam tiap millimeter yang kami lalui di tengah dinginnya malam yang anginnya tak semilir lagi, kami saling bercerita ... dan kutemukan ia ... dan dirinya. Seorang ’SH’.
Malam itu aku pulang dengan Mas Agus setelah halal bihalal di rumah Mas Tris. Aku sengaja menolak beberapa orang yang ingin pulang bareng denganku (plus teman seperjuanganku yang paling setia, motor Mio-ku sayang) karena memang ada maksud untuk menyampaikan sesuatu kepada Mas Agus dan kurasa ini adalah momen yang tepat. Suara lirih Mas Agus memaksaku untuk melepas helm. So, helm di tangan kanan dan kantong plastik besar berisi kotak (entah) sepatu/sandal barunya Mas Agus yang kugenggam erat di tangan kiri cukup merepotkan aku. Awal perjalanan kami mulai dengan guyon-guyon sederhana. Keheningan sesaat membuatku mulai menyampaikan pesan dari beberapa siswa tentang betapa kerasnya Mas Agus ketika melatih. Aku hanya sekedar mencoba mengingatkan karena aku sendiri pernah melihat Mas Agus nglatih. Menurutku cara melatih Mas Agus memang 180 derajat berbeda dengan Mas Sugeng dalam hal penyampaian materi. Mas Sugeng cenderung lebih sabar dan kalem dalam melatih serta memotivasi siswa sementara Mas Agus cenderung ‘sedikit’ lebih keras. Aku tahu ke’keras’an Mas Agus dalam melatih adalah sebuah harapan besar agar suatu saat nanti siswa yang dilatihnya menjadi pesilat hebat. Aku juga tahu dibalik senyum manis itu … ada perjuangan pahit untuk jadi seorang juara yang tak pernah ia sampaikan dan ia tunjukkan di depan siapapun. Aku bukan sok tahu, tapi itu perkiraanku yang akhirnya terbukti malam itu dalam cerita Mas Agus sendiri. Dia tumpahkan semua isi hatinya malam itu. Malam itu, kami saling bercerita, tentang kisah kami, tentang jatuh bangun kami, tentang perjuangan-perjuangan kecil kami, saat-saat kami terjatuh dan tertatih, saat-saat terpahit dalam hidup kami, untuk sebuah harapan besar, untuk organisasi, untuk PSHT, yang tak semua orang mau tahu, yang tak semua orang mau mengerti.
Kusampaikan pendapat para siswa tentang Mas Agus kepada Mas Agus sendiri, agar lebih bijak bagiku untuk menjawab keluhan para siswa. Agar dapat kupastikan jawaban terbaik bagi orang-orang yang belum paham tentang seorang Mas Agus. Karena aku tidak bisa terima kalau peluang Mas Agus untuk terpilih menjadi Ketua UKM tertutup rapat hanya karena cara melatihnya yang dianggap terlalu keras. Aku ingin mereka lebih tahu dan mampu melihat visi seorang Mas Agus, bukan sekadar dari misi yang dilaksanakan. Mas Agus memang bukan tipe orang yanng mudah dan pandai menyampaikan maksudnya (kecuali kalau mulai gombal (^-^)). Dan kini, aku hanya bisa berusaha menjadi jembatan, membangun komunikasi antara Mas Agus dengan para siswa. Bahwa betapa kerasnya Mas Agus melatih adalah caranya untuk menyampaikan betapa ingin hatinya melihat mereka menjadi pesilat besar suatu hari nanti. Andai mereka tahu ... . Aku ingin semua orang melihat ada sosok yang lebih besar dari tubuh pesilatnya, ada rasa pahit yang dipendam dalam hati dibalik senyum manisnya. Kuingin semua orang tak hanya memandang dan menilai Mas Agus secara dangkal dan sekilas, tapi melihat dan menggapai lebih dalam diri Mas Agus. Mas Agus sangat layak untuk dihormati, dihargai, bukan karena prestasinya tapi karena visi dan dedikasinya. Aku ingin semua orang lebih menghargai pelatih, guru, dosen, tutor, atau bahkan orang tua kita. Mereka mungkin terlalu keras dalam membina dan membimbing kita, tapi pernahkah kita menanyakan maksud dan alasan mereka dalam menuntun kita? Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mereka telah mendedikasikan diri dan mengorbankan banyak hal untuk membina kita? Suara lirihnya tak sanggup tuk katakan banyak hal, senyum manisnya juga bukan jawaban bagi ribuan pertanyaan.
Dedicated to: Mas Agus ’Tikus’ Triyono, kudeskripsikan Mas semampuku, sebelum hilang empati dari hati ini, sebelum lenyap file dari memory ini, sebelum dicabut nyawa dari raga ini. Mas, biarlah cerita dan luka itu kita bawa pergi sendiri, tanpa perlu ada yang tahu dan mengerti. Biarlah luka ini terus terlukai, biarlah ia menjadi kegetiran yang tak bisa diungkap, biarlah ia menjadi rahasia yang tak kunjung tersingkap. Biarlah hidup kita berlalu seperti sebuah gambar yang diiringi narasi dan ilustrasi, tanpa perlu deskripsi atau eksposisi. Kau, yang kini berada di seberang pulau sana, di sebuah pulau yang terdiri dari 3 negara...berjuang untuk sebuah cita, hanya ada doa dari sini dan lekaslah kembali ... tersenyum berkalung medali. Geben Sie nicht auf!!!!!!| Start: | Mar 15, '08 | | End: | Mar 21, '08 |
| Start: | Dec 27, '07 | | End: | Dec 29, '07 |
Event antar perguruan se-Surabaya, cuma belum tahu yang bener mana sich judul piala yang benar????? 
Porprop, 2 November 2007 Kutemui mereka, team Trenggalek Kutemukan lagi dari mereka Sesuatu yang sejenak hilang dari ingatan, ditelan hiruk-pikuknya kota besar tempat ku merantau sekarang Dari mata mereka kulihat Trenggalek Sederhana, utun, ndeso, katrok (^-^) Tapi memang itulah Trenggalek...sederhana, sangat sederhana Walau alamnya sudah tak perawan lagi Namun masih mampu menebarkan pesonanya Pesona kesederhanan alam raya Tapi pertanda kemegahan semesta  Aku rindu dinginnya pagi yang harus kulalui Aku rindu mega merah di sore hari yang mampu menggetarkan hati Dan mesranya angin yang membelai Aku rindu indahnya bintang di malam hari Aku rindu lengangnya shubuh yang amat sepi bagai kota mati Aku rindu kemesraan-kemesraan sederhana yang kulalui bersama orang-orang yang kucintai Di Trenggalek Kimi Raikonnen ’Iceman’ yang dengan sikap dingin dan tenangnya mampu membekukan 1 point di atas kandidat utama juara dunia yang kontroversial, Lewis Hamilton, hingga menghantarkannya meraih gelar juara dunia. Kita tahu ia, sikap cueknya, ulah serta tingkah polahnya Namun yang harus kita perhatikan adalah prestasinya Ditarik ke team yang dirintis oleh Enzo Ferari adalah kenyataan dan penghargaan yang memberikan peluang besar baginya untuk lebih mengembangkan potensi diri Betapa lambatnya ia di awal musim merupakan wacana yang sering digembar-gemborkan pers Tetapi ia tetap tenang, cuek, dingin, tanpa ekspresi, tanpa emosi Dinamika posisinya tidak pernah menggoyah hatinya Dia hanya menampilkan yang terbaik, tak pernah mempermasalahkan kesalahan-kesalahan teknis, tidak juga berusaha bermain curang Hingga musim ini ditutupnya dengan satu kemenangan yang sangat berarti Ketenangan, kesabaran, dan profesionalisme yang luar biasa Kemenangannya bukan hadiah, tapi sebuah simbol hasil perjuangan panjang penuh halangan dan rintangan yang dilaluinya dengan penuh keyakinan dan kesabaran Sabtu, 17 Desember 2005 Ku lalui tepi gelanggang dengan hati yang benar-benar berserah dan pasrah Mengahadap pada 5 juri yang siap dengan kertas nilainya Dua hari aku tidak latihan sama sekali Tergeletak lemah tak berdaya menahan sakit Aku tidak pernah tidur Karena kemanapun aku menghadap Hanya detail jurus tunggal yang ada di benak dan pikiranku Kini, di atas sajadah hijau ini aku harus menampilkannya Dengan modal tekad dan sedikit nekat Kubersedekap, hingga suara gong terdengar Gerakan pertama jurus pertama telah kulalui Tapi apa gerakan selanjutnya? Ah, iya...tepuk dan sisir. Lalu...??? Ah, sudah tidak ada waktu lagi! Mainkan semampumu, berdasar nalurimu Tidak usah dipikirkan lagi urutannya, detailnya, atau tentang kebenaran gerak yang dulu Mas Ritus berikan padamu di tengah lapangan futsal di atas tekhel panas di bawah terik sinar matahari di antara kesibukan orang banyak Main! Hanya itu kata hatiku 3 menit 2 detik waktu yang kutorehkan, Kelebihan 2 detik adalah akibat dari kelalaianku yang lupa kalau di belakang juri 3 ada Mbak Alan, Emy, Mas Nova, dan Mas Bayu yang memberi kode Aku terlalu sibuk dengan kegalauan hatiku dan kekacauan pikiranku Aku keluar gelanggang tersenyum gila Entah bagaimana hasil akhir dari kekacauan yang kubuat tadi Ah, betapa mantapnya gerakan mereka! Pikirku. Tak ada lagi harapan, aku rela pulang dengan tangan hampa, kalau itu memang takdir untukku. Mas Ari memberi acungan jempol sambil mengangguk kepadaku, aku tak yakin, aku tak percaya, walau banyak yang mencoba tuk meyakinkanku. Ketika tersabda nama seseorang dari SMAN 1 Trenggalek, sontak kepalaku ditarik, badanku dikoyak, entah selebrasi model apa ini, tapi aku coba melindungi diri. Kami atau hanya mereka jelasnya tenggelam dalam euforia kemenangan yang ditawarkan. Aku tetap tidak percaya, Walau Mas Nova yang waktu itu jadi official seni-ku, yang terus berusaha untuk mengantarkanku ke dokter tapi ga’ ketemu, yang setia mendampingiku dalam suka duka perjuanganku, terus meyakinkanku Aku tetap sulit untuk percaya Pesona saat-saat penyebutan nama memang memiliki kekuatan luar biasa Pesonanya mampu membuat kita tak percaya, atau bahkan hilang akal Sujud syukurku atas peristiwa itu Mas Ari Yudha S. Seorang warga, anak buah Mbak Kurniati Rahayuni Dari Unair, mahasiswa FMIPA Jurusan Matematika Semester 5 Turun di seni karena terpaksa, ga’ ada orang katanya Pertama kali turun sebagai atlet laga di Kejurnas PSHT di Universitas Brawijaya Pertama kali main dan harus berhadapan dengan Mas Black (Mas Huntoro, pesilat PSHT asal Blitar, dari ITN) adalah kenyataan pahit yang tak kan hilang bayangnya di benak Mas Yudha Sifatnya sangat kalem, rendah hati kadang cenderung rendah diri (padahal dia mampu), hanya perlu dipoles dan dimotivasi untuk terus menggali potensi diri Dengan bekal tekad, latihan fisik dan kemampuan seadanya, Mas Yudha turun Porprof I Jatim 2007 mewakili Kota Madiun Seperti anak ayam kehilangan induk semang Mas Yudha turun tanpa bimbingan karena Mbak Kur masih POMNAS di Kalimantan Di sana ada aku yang hanya orang biasa bukan pesilat dengan prestasi dan kemampuan luar biasa Tapi tekadku agar orang-orang PSHT lain bisa lebih baik dariku membuatku meyakinkan diri ini untuk sekadar memberikan bimbingan sederhana kepada Mas Yudha dalam batas keilmuan yang aku tahu Aku sudah siap dan telah kuat untuk dihujat Karena aku memang bukan pelatih ataupun seseorang yang menjanjikan kemenangan Karena aku memang hanya orang biasa yang hanya bisa berdoa dan berpinta pada Tuhan tentang seorang teman yang akan berjuang di atas gelanggang Tapi aku merasa berkewajiban untuk mempersiapkan dan menguatkan hatinya agar selalu siap menghadapi segala hasilnya kelak Termasuk pada Senin sore tanggal 5 November 2007 Ketika penyisihan aku terlambat datang, Mas Yudha baru saja main, dengan senyum yang sama seperti senyumku dulu, senyum tanda mohon pemakluman dari team atas kekacauan yang telah dibuat Mas Yudha memang tidak berharap banyak Namun kuyakinkan ia untuk tetap berlatih apapun hasilnya nanti Sudah terpeta di benak dan otakku bahwa besok jam 4 pagi aku harus tetap datang untuk terus menemaninya menempa diri walau ia sudah tidak main untuk final nanti Mas Yudha mengangguk mengiyakan, di matanya kulihat harapan ke depan Keyakinan yang menolak untuk berhenti berjuang Hingga saat pengumuman nilai, kami tidak memperhatikan urutannya Tapi ketika Ketua Pertandingan mengumumkan bahwa wakil Kota Madiun dapat melanjutkan perjuangannya ke partai final membuat suasana hening sesaat Terhenyak dalam tanda tanya, tenggelam dalam ketidak percayaan Sekejap berubah menjadi sebuah acara jabat tangan, tersungging senyum di wajahnya, teman-teman kuliahnya, orang-orang di sekitarnya, dan tentu saja aku Kujabat tangannya, mengucapkan selamat dengan senyum paling membahagiakan yang aku punya Ini hanya selebrasi kecil dari sebuah kemenangan sederhana Sebuah momen bersahaja, yang tidak membawa kita kemana-mana Tapi setidaknya mampu menguatkan hati kita, memantapkan langkah kita, dan meyakinkan kita...bahwa tanpa kuasa Allah, kita bukan siapa-sipa Saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah, Itu hanyalah kisah-kisah sederhana tentang kemenangan-kemenangan kecil yang dialami manusia Kita punya kewajiban untuk terus berjuang walau kita telah berestimasi tentang hasilnya Jangan juga kita terlena dengan apa yang ada pada diri kita Di tangan Allah segala kuasa Kita tidak mempunyai daya untuk mengubahnya Ketika kehendaknya telah diputuskan, tak ada seorang pun yang mampu mengubahnya Tapi setidaknya kita harus tahu, bahwa Allah melihat tiap detik ikhtiar kita, bahwa Allah mendengar tiap huruf permohonan kita, bahwa Allah menghitung tiap tetes air mata kita, dan ketahuilah saudaraku ... bahwa ridhaNya ... amatlah luas Saya berkunjung ke negara Maroko untuk mengadakan pengobatan –operasi jantung- secara cuma-cuma khusus untuk kalangan fakir miskin dengan dana sukarela dari seseorang di Saudi Arabia. Kunjungan itu saya awali dengan melakukan inspeksi (pemeriksaan dengan teliti yang dilakukan oleh pihak terkait) untuk mengetahui gambaran umum kondisi kesehatan di negara itu. Dalam acara ini saya ditemani oleh dr. Muhsin Ubaidillah yang bertindak sebagai asisten dan penterjermah, karena beliau adalah penduduk asli negara ini. Beliau juga melakukan banyak tugas dan pekerjaan dalam rangka menyukseskan acara saya ini. Semoga Allah membalas semua kebaikannya. Di antara pasien yang datang, ada seorang pasien yang telah berusia empat puluh tahun, ketika melihat keadaannya saya sangat khawatir, ia berjalan tiap dua langkah berhenti menghela nafas, perutnya membuncit karena busung, kedua kakinya telah membengkak akibat dari jantung yang lemah, urat-urat nadi di lututnya telah membesar dan wajahnya menyiratkan rasa sakit dan penderitaan, anda tidak akan mampu menyaksikannya. Ketika melihatnya seperti itu, saya merasa khawatir, dan lebih ngeri lagi saat saya memeriksa catatan kesehatannya, maka saya ingatkan dr. Muhsin agar tidak memasukkannya di dalam daftara orang-orang yang akan menjalani operasi. Karena berdasarkan perkiraan saya, operasi tidak akan memberikan banyak manfaat untuknya, ditambah lagi bahwa kondisinya sangat mengkhawatirkan. Dalam hal ini saya berkewajiban untuk menyeleksi orang-orang yang mungkin mendapatkan manfaat dari proyek ini. Ternyata orang tersebut mengerti apa yang saya katakan kepada dr. Muhsin, maka ia segera menyahut, ”Ingat apa yang dikatakan oleh Tuhan-ku, bukankah Dia telah berfirman, ’Dan apabila aku sakit. Dialah yang menyembuhkanku.’ (QS. As-Syuara’: 80) Dalam hal ini saya sangat yakin bahwa dengan izin Allah saya akan sembuh. Wahai dokter, anda hanya perantara saja atas kesembuhan saya ini, maka operasilah saya, karena sesungguhnya Allah-lah yang akan menyembuhkan saya.” Saya mencoba memberikan penjelasan dengan lemah lembutk kepadanya, akan tetapi ia tetap bersikeras minta untuk dioperasi. Maka akhirnya saya katakan kepadanya, ”Insya Allah, tidak akan terjadi kecuali yang terbaik.” Tak lama kemudian saya melihatnya bertayamum lalu mendirikan shalat zhuhur, saya bertanya kepadanya, ”Kenapa tidak berwudhu?” Ia menjawab, ”Saya tidak bisa, bahkan untuk melaksanakan shalat sambil berdiripun saya tidak mampu.” Mendengar penjelasan itu, saya hampir berubah pendirian untuk mengoperasinya, akan tetapi kemudian saya ingat, bahwa kedatangan saya kesini dengan perbekalan yang minim dan harus disalurkan kepada mereka-mereka yang diperkirakan akan mendapat hasil dari operasi ini dengan izin Allah. Ketika saya mulai melakukan operasi kepada para pasien, orang itu dua kali datang kembali, akan tetapi ia ditolak oleh dr. Muhsin. Pada minggu terakhir dari masa tugas saya, dr. Dzafir al-Khudhairi, ahli anastesi (pembiusan), harus meninggalkan saya untuk urusan yang penting, yang mana kami berdua telah sepakat sebelumnya bahwa operasi untuk kondisi seperti orang ini tidak mungkin untuk dilaksanakan di sini. Dan beliau telah menolak untuk melaksanakan anastesi terhadap orang yang kondisinya lebih bagus dari pada orang ini. Setelah dr. Dzafir pergi, pagda minggu terakhir ini posisi anastesi digantikan oleh dr. Musthafa al-Sabit, beliau adalah seorang dokter yang cukup terkenal dan berjiwa militer. Pada minggu ini pula dr. Muhsin harus beristirahat dua hari karena sakit. Orang tersebut datang ke rumah sakit lagi dan kemudian dr. Ilmi yang tidak tahu duduk permasalahannya memasukkan orang tersebut ke dalam daftar tunggu pasien operasi. Biasanya saya memeriksa pasien yang akan menjalani operasi pada malam hari sebelum tiba hari pelaksanaan operasi, tepat pada malam hari dimana besok paginya orang tersebut mendapat giliran operasi, saya diundang untuk makan malam di Kota al-Ribath yang memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dengna mobil dari al-Dar al-Abhyadh, sehingga saya pulang larut malam dan malas untuk pergi memeriksa pasien yang akan dioperasi esok hari, aku berkata kepada diri sendiri, ”Insya Allah, besok aku akan berangkat pagi-pagi untuk memeriksa pasien yang akan dioperasi.” Akan tetapi apa yang terjadi? Allah takdirkan saya bangun kesiangan, pada jam setengah sembilan, maka dengan tergesa-gesa saya berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di sana ternyata pasien telah siap, sekilas saya memeriksa laporan dan tidak menelitinya dengan cermat. Pada saat itu saya hanya konsentrasi pada hal-hal yang perlu dilaksanakan terhadap pasien, yakni membenahi tiga titik katup. Operasi telah saya mulai dan berjalan sesuai dengan rencana sedangkan pasiennya dalam kondisi yang sangat stabil dan tenang. Saya menuju ruan staff bagian jantung, lalu pergi beberapa saat untuk memenuhi beberapa keperluan dan kembali ke rumah sakit untuk melihat pasien-pasien yang telah dioperasi hari ini, dilanjutkan dengan memeriksa pasien-pasien yang akan menjalani operasi esok hari. Tiba-tiba dr. Muhsin mengajakku menuju ke bangsal pemulihan sambil berkata, ”Mari, kita lihat salah seorang pasien.” Di sana saya mendapati orang yang kondisinya sangat mengkhawatirkan itu tengah duduk di atas bangsal pemulihan dalam keadaan yang sangat stabil tanpa alat bantu pernafasan karena telah dilepaskan darinya. Sesaat setelah melihatku, ia segera membaca firman Allah, ”Dan apabila aku sakit. Dialah yang menyembuhkan aku.” Lalu berkata, ”Bukankah aku telah mengatakan kepadamu wahai dokter, sesungguhnya Tuhan-ku akan menyembuhkanku, sedangkan anda tidak lain hanyalah perantara.” Saya bertanya kepada dr. Muhsin, ”Bagaimana pasien ini bisa masuk?” Maka beliau mengkisahkan jalan ceritanya yang memang tidak saya ketahui sebelumnya, dr. Muhsin berkata, ”Ketika saya absen karena sakit kemarin, orang ini mendatangi dr. Ilmi, maka beliau memasukkannya ke dalam daftar pasien yang menjalani operasi hari ini, karena beliau mengira anda telah menyetujui orang ini untuk masuk ke ruang operasi. Dan pagi ini ketika saya tiba di ruang operasi saya dikejutkan oleh keberadaan pasien ini di sana, maka saya jelaskan kepada dr. Mushthafa al-Sabit (ahli anastesi) bahwa anda tidak bersedia untuk melakukan operasi atas pasien ini berdasarkan pertimbangan resikonya. Orang ini menangis dan memohon kepada dr. Musthafa, ia terus merengek hingga akhirnya dr. Musthafa menyerah dan melakukan pembiusan terhadap pasien ini. Beliau diingatkan kembali bahwa anda (dr. Khalid) tidak bersedia melakukan operasi apapun terhadap orang ini, akan tetapi dr. Musthafa bersikeras bahwa beliau yang bertanggung jawab dan beliau akan menjelaskannya kepada anda, begitulah kisahnya.” Seminggu kemudian pasien tersebut telah keluar dari rumah sakit dan tiga bulan kemudian kembali melakukan aktifitasnya yang telah ia tinggalkan sejak dua tahun yang lalu. Saudara saudariku sekalian, sesungguhnya orang ini telah menyerahkan dirinya dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah, maka Allah Ta’ala memberinya kesabaran dan keyakinan akan datangnya kesembuhan, karena itu ia memaksakan diri untuk menjalani operasi dengan penuh keyakinan bahwa Allah yang Maha Pemberi dan Maha Mulia akan menyembuhkannya, Allah Ta’ala berfirman, ”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, ”Seandainya kalian bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pastilah Allah akan memberimu rezeki sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi) Saudaraku...laki-laki itu bersabar atas penyakit yang ia derita, kemudian ia yakin bahwa Allah Ta’ala akan menyembuhkannya, karena itulah Allah memudahkan proses operasinya dan menghilangkan semua aral yang merintanginya. Allah Ta’ala telah memunculkan seorang dermawan Saudi yang mendanai proyek pengobatan untuk kalangan fakir miskin di Maroko ini, kemudian Allah Ta’ala memuluskan jalan menuju ruang operasi sehingga seorang dokter, Allah Ta’ala takdirkan sakit, seorang dokter sibuk, dokter ketiga bepergian dan dokter keempat merasa kasihan kepadanya, sehingga dengan skenario itu akhirnya operasipun berjalan dengan lancar. Kejadian ini merupakan bukti nyata bahwa, jika Allah Ta’ala mentakdirkan sesuatu, maka Allah Ta’ala akan memudahkan jalan untuk ke sana, memberikan sarana pendukungnya dan hal itu harus dan pasti terjadi. Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:’Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82) Dalam kejadian di atas Allah Ta’ala menyingkirkan semua dokter yang menjadi penghalang terjadinya proses operasi, Maha Suci Allah. 
Diambil dari: Kesaksian Seorang Dokter Dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP (Dokter Spesialis Bedah dan Jantung)  Ndis, perjuanganmu sampai ’nyolong’ foto Pak Mur, kepsek kita, dari kantornya Cara bicara-mu yang tidak pernah bisa berBahasa Indonesia dengan fasih Penampilanmu yang takkan pernah bisa pernah membuat anak buahmu bangga melainkan harus pulang sambil menutup muka dengan sandal Rambutmu yang seperti Einsten jika kamu mulai berpikir keras, stress, baru bangun tidur, ataupun ga’ pake minyak rambut Adalah deskripsi ringkas tentang dirimu yang takkan pernah kami sesalkan Kenarsisan dan keanehanmu (walau belum masuk 7 keajaiban dunia atau bahkan Guinnes World Record) adalah sifatmu yang merupakan kelebihanmu yang selama ini dan belum kutemukan lagi orang sepertimu Bersaing denganmu untuk menjadi ketos terpilih adalah sebuah kehormatan Aku selama itu memang cenderung membangkang Tapi jangan lupa, di hati ini kan selalu tertanam rasa hormatku Rasa bangga, yang takkan pernah terganti Walau ada beberapa sesal yang takkan pernah terhapus atas beberapa kebijakanmu yang menurutku tidak bijak Tapi di hati ini takkan kami lupakan kesederhanaanmu sebagai mitratama, kerelaanmu sampai ga’ tidur dan makan di rumah dan kesabaranmu menghadapi kekeras kepalaan kami  Tapi di memory ini takkan terhapus akurasi kenangan-kenangan penting perjuangan kita mengangkat nama SMANESA Ingatlah, bahwa setiap atom peluh dan energi yang kita habiskan bersama dalam setiap daya dan usaha yang kita lalui akan jadi sebuah berkas cahaya di hati dan memori Kenangan-kenangan itu takkan sekedar jadi impuls Tapi ia kan jadi selalu momentum yang jumlahnya akan tetap dan kekal setiap saat Ia takkan kan memuai oleh suhu setinggi apapun Ia juga takkan membeku oleh suhu serendah apapun Tetaplah berdiri tegak melawan gravitasi Jangan sampai terkontaminasi oleh radiasi Jadilah medan magnet yang mampu membuat dunia tertarik padamu walau tanpa penghantar ataupun induksi Buatlah dunia terfokus padamu walau tanpa kaca pembesar Jangan jadi orang yang berprinsip ketidak pastian seperti Heisenberg Jadilah orang yang tetap hatinya tanpa tergoyah oleh arus dan tegangan bolak-balik ricuhnya dunia Teruslah bergerak lurus tanpa harus berubah tak beraturan Tetaplah sederhana dalam batas frekuensi audio Dimana setiap orang bisa dan mau mendengarkanmu walau tanpa melalui medium perambatan bunyi model apapun itu nanti Ah, udah ah! Capek! Tau/ga’? Aku begadang 7 hari 7 malam cuma untuk belajar Fisika demi nulis ini buat kamu. Btw, kamu kan tahu aku ga’ pinter fisika (dan aku pun tahu kamu ga’ pinter bahasa (^-^)). So, klo ada salah-salah kata ya maap...

Kawan, Masih ingatkah kalian Kita Dengan mading kebanggaan kita Yang disana tersemat sebuah piagam dan amplop juara berbaris terapi ketika upacara (Entah bagaimana kita bisa serapi itu?) Yang disana juga tak jarang ditempel karikatur hasil karya Rohmat dkk yang frustasi, tidak terima, jengkel, de el el dengan kenyataan Yang juga menjadi sarana pemberi tahuan dari guru tentang daftar siswa yang remidi
 Lebah Madu Simbol persatuan kita hingga sekarang Yang belum bisa kita jelaskan hingga sekarang filosofinya Pokoknya itulah simbol kita Simbol yang ada di jamper kita Simbol pemersatu yang sangat monumental bagi kita
 Hidup berdasar sinting (eh...insting ding) Motto kita Apis Indica, biological nomenclatur yang merupakan nama lain kita Yang kadang digambarkan sebagai burung di stiker dan lalat di jamper Pokoknya ga’ jelas, ada gambar serangga ataupun aves kita pasang aja Kita juga tidak pernah protes atau mengusulkan makhluk atau nama lain untuk jadi simbol kita Entah beruang madu, atau vektor, zigma, dan nama lain Tapi itulah nama latin kita Yang kita banggakan ketika Mas Suko tahu kita adalah Apis Indica Community setelah melihat tulisan di kaca kelas kita yang debunya tebal Yang diprotes oleh Mak Itik Sifat – sifat kita yang cenderung narsis Suka, duka yang kita lalui bersama Ketua-ketua kita yang utun-utun Kelas yang penuh romantika persaingan dan persahabatan Yang aromanya merupakan cerita cinta dengan sejuta makna Yang takkan pernah terlupakan Karna tiap detik kenangan yang kita lalui akan tetap tersimpan aman dan tertanam dalam di hati dan memori kita Kita yang mampu membuat guru-guru kita marah, tersenyum simpul, jengkel, bahkan nggumun Bahkan kadang membuat mereka merindu Terutama kita yang sibuk dengan urusan masing-masing Kejengkelan, ketakutan, kebosanan, kepercayaan bahkan cinta kita pada mereka Membuat kita sadar, betapa sayangnya mereka pada kita  Teman-teman tercintaku, Jangan lupakan persatuan kita Jangan lupakan kenakalan-kenakalan masa jahiliah kita
Di bawah LMC kita bersatu Kita akan slalu jadi community teraneh dan terkuat Terima itu dengan senyum bangga Berjalanlah tegak, dengan kepala terangkat di atas bumi Jangan malu menyatakan ke-Trenggalek-an kita Walau kuakui, baru satu kelompok yang dengan bangga menyatakan ke-Trenggalek-annya (Kernet bus jurusan Trenggalek,#?!$%*@) 3 tahun yang kita habiskan bersama, senyum kita, adalah nyawa kita Remidi yang sering kita lalui secara massal (sebagai akibat dari soal yang setaraf olimpiade atau nilai kita yang 0,5 padahal nilai tertingginya 100) Adalah sebuah bintang terang di tengah malam yang tanpanya langit tak akan indah Sebuah noda hitam tapi serupa dengan tinta emas yang akan selalu terpatri di hati kita Prestasi kita yang komplit Mulai dari juara karya tulis tingkat nasional (mulai dari sistem rangka sampai gamblong), juara olimpiade, juara puisi, kebersihan kelas, tenis, pencak silat, baris upacara, juara mading, juara mengarang, juara pameran seni, ketua OSIS bersama staf-staf edannya, ketua keputrian SKI, ketua PMR, ketua PLASMA 1, paskibra Jatim, pimpinan redaktur majalah sekolah, dan prestasi-prestasi lain yang terlalu beragam Adalah kemajemukkan yang membanggakan, yang kuyakin takkan ditemukan di kelas lain di jaman kita masih muda dulu Ya, kita masih sangat muda waktu itu Kita yang terdiri dari mulai dari yang paling alim sampai yang paling ekstrem (utunnya) Kemarahan kita, kesedihan kita, kekecewaan kita, kelelahan, tangis, dan segala macam bentuk emosi yang kita lampiaskan adalah warna dalam kanvas kehidupan kita Yang akan jadi album abadi di hati dan memori Kita, Yang dengan roti atau makanan kecil apapun, adalah bentuk syukuran kita (walau tanpa ingkung) Yang mampu menyatukan kita dalam momen rutin yang sederhana Kita, Yang sering berlomba-lomba membuat karya terhebat ketika pelajaran seni dimulai Yang paling tidak mau kalah tentang up-date lagu terbaru dari black box Kini, kita melanglang buana menembus cakrawala Tenggelam dalam suasana Tersebar ke tiap sudut alam raya Sibuk mempersiapkan diri Tuk jadi kaum intelektual Tuk jadi generasi analitis yang skeptis dan kritis Kelak kita kan disibukkan oleh urusan kita masing-masing Kelak kita kan terhapus segala kenangan kecil ini oleh anak cucu kita Kawan, Cerita ini hanyalah deskripsi sederhana yang terlalu singkat untuk menjelaskan semua tentang kita Tapi setidaknya bisa menjadi catatan kecil Menjadi pengingat kita di kala kita mulai melupakannya Menjadi pemersatu kita di saat kita terpisah oleh jarak Walaupun jarak dan pulsa membatasi komunikasi kita Kita akan terhubung selama-lamanya Teman, Sebelum hilang bayangnya Izinkan kuakhiri cerita kita dengan perpisahan yang sederhana dan bersahaja Agar bermakna tiap langkah yang kita lalui bersama Agar kuat ikatan hati kita, ikatan yang kan persatukan kita entah kapan dan dimana (Hapus air matamu, sapu lantaimu ... Lho??!? Buat garis dari bathok, yo wis ngono thok (^-^))  | Guestbook | |
 |
Great site...stay in touch |
 |
Assalamu'alaykum salam persaudaraan \(n_n)/ |
 |
|
 |
ha ha ha.................
just fine |
 |
salam persaudaraan salam dari inggris |
 |
yO i,,,*-*
mksh kunjungan balasnya..
anyway btw bus way..^-^
gmn cuaca Trenggalek akhir2 ney,, hujankah...?? |
 |
SaLam knaL dari purwokerTo,,
saya orang asLi trenggaLek...
ikuTan isi2...^-^
PP.Ar-Rosyiidiyah NgaRes Lor PeNjaRa Almat saya..
tanks if antum maw bTeman
|
 |
salam persaudaraan...matur suwun sampun mampir teng griyo kulo |
 |
web mu bagus banget dek.... teruskan!!!! (senangnya... ternyata aku nggak sendirian di jagad digital ini.....T.T) |
| |